Loading...
Fiqih.

Pengertian dan mengenal lima Qoidah Fiqhiyyah kubro bag:2.

2.اليقين لا يزول بالشك.

:sesuatu yang diyakini tidak bias hilang dengan hal yang diragukan.

Dasar dari qoidah ini adalah firman Allah subhanahu watala’ala surat yunus ayat 36:

ان الظن لا يغني من الحق شيئا

:sesungguhnya prasangka itu sedikitpun tidak berguna untuk mencapai kebenaran.

Begitu juga dengan surat an-Najm ayat 28:

وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

:sesungguhnya prasangka itu sedikitpun tidak berguna untuk mencapai kebenaran

Qoidah ini juga diambil dari Hadits Nabi صلى الله عليه وسلم yang berbunyi:

دع ما يريبك إلى ما لا يريبك

رواه الترمذي

:tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu,bergantilah kepada apa yang tidak meragukan kamu “

HR.Tirmidzi

Contoh dari qoidah ini misalnya:

Seseorang telah berwudhu dengan sempurna wudhu untuk melakukan sholat kemudian terjadi sesuatu kepadanya sehingga dia ragu apakah wudhunya telah batal,maka dia langsung sholat karena dengan yakin dia sudah berwudhu.sedangkan keraguan itu tidak menjadikan wudhunya menjadi batal.

Seorang suami ragu apakah dia telah menceraikan istrinya dan menjatuhkan thalaq atau bukan,maka mereka berdua masih terikat dengan pernikahan dan thalaq yang meragukan itu tidak berpengaruh kepada hubungan mereka.karena sudah pasti dan meyakinkan mereka berdua telah melakukan aqad nikah.

Jika ada seseorang yang bepergian jauh dan tidak ada kabar darinya dalam waktu yang lama, kemudian timbul keraguan dari keluarganya apakah dia sudah mati atau belum, maka dia tidak boleh dikatakan telah mati karena kematiannya ditetapkan atas dasar keraguan semata dan bagi ahli warisnya tidak boleh membagi warisan yang ditinggalkannya.

Jika seseorang naik pesawat kemudian pesawatnya jatuh, maka dalam kasus ini dia dihukumi telah mati karena kematiannya merupakan praduga yang kuat dan praduga yang kuat kedudukannya sama dengan yakin.

 

Jika seseorang yang mengalami sakit perut sedang melakukan sholat,kemudian dia ragu apakah sesuatu yang membatalkan wudhu terjadi pada dirinya atau bukan? maka janganlah dia menghentikan sholatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau,dan hendaklah dia menyempurnakan sholatnya.karena dalam masalah ini Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

اذا وجد احدكم في بطنه شيئا فأشكل عليه أخرج منه شيء ام لا؟ فلا يخرجن من المسجد حتى يسمع صوتا او يجد ريحا

Maksud dari hadis ini adalah seseorang tidak boleh membatalkan shalatnya sampai dia yakin kalau telah berhadas.

Qoidah yang lahir dari qoidah ini antara lain:

  1. لاصل بقاء ما كان على ما كان

:sesuatu itu asalnya seperti keadaannya yang pertama.

  1. لا عبرة للتوهم

:tidak diperhitungkan sesuatu yang meragukan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *