Loading...
Fiqih.

Pengertian dan mengenal lima Qo’idah fiqhiyyah kubro bag.5

Pengertian dan mengenal lima Qo’idah fiqhiyyah kubro 5:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد:

Dalam tulisan kali ini kita akan melanjutkan pembahasan kita yang telah kita mulai beberapa waktu yang lalu tentang Qo’idah Fiqhiyyah kubro yang sempat terputus karena beberapa sebab.yang akan kita bahas saat ini adalah Qo’idah kelima yang berbunyi:

العادة محكمة

:adat(kebiasaan) bisa dijadikan sebagai sumber hukum.

Maksud dari kaidah ini bahwa adat,kebiasaan,dan suatu keadaan bisa dijadikan sebagai hukum,selama tidak bertentangan dengan dalil nash dari al-Qur’an dan Sunnah(Hadits).

Contoh kaedah ini misalnya:

1.Nafkah seorang istri yang diberikan suami ukurannya sesuai adat dan kebiasaan tempat mereka tinggal.

  1. untuk menjadi saksi dalam suatu perkara tidak boleh dari saksi itu orang yang punya masalah dengan terdakwa, sebab saksi yang sudah memiliki masalah pribadi dengan terdakwa akan memilki rasa dendam kepada terdakwa, karena begitu psikologi orang atau kebiasaan yang belaku umum.

Kaedah ini diambil dari ayat al-Qur’an.misalnya:

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ ۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

الطلاق:7

:hendaklah yang memiliki keluasan rezeqi menafkahi(istri) yang ditolak sesuai dengan keluasan rizqinya,dan barangsiapa yang disempitkan(disedikitkan) rezeqinya hendaklah dia member nafkah sesuai dengan kemampuannya.dan Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan apa yang dia berikan,Allah akan memudahkan setiap kesulitan.

QS.ath-Tholaq:7

وصلى الله على نبينا محمد وعلى أله وأصحابه أجمعين

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *