Loading...
Fiqih.

Pengertian dan mengenal lima Qoidah Fiqhiyyah kubro bag.4

  1. الضرر يزال.

:kemudharatan(bahaya) itu harus dihilangkan.

Qoidah fiqhiyyah yang agung ini diambil dari ayat al-Qur’an dan Sunnah.antara lain:

Surat al-Baqoroh ayat 195:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ

:jangalah kamu meletakkan(melemparkan) diri kepada kebinasaan.

Sedangkan dari Sunnah adalah Hadits riwayat Ibnu Majah dan Daruquthni yang berbunyai:

لا ضرر ولا ضرارا.

Beberapa contoh dari qoidah ini:

1.Dilarang menimbun barang-barang kebutuhan pokok masyarakat,karena perbuatan tersebut menimbulkan kesulitan bagi masyarakat.

2.Allah mengharamkan beberapa hal dan melarang perbuatan maksiat,karena pada semua yang diharamkan Allah dan maksiat ada bahaya dan kemudharatan bagi manusia.

3.Diperbolehkan bagi suami mentalaq istrinya untuk bercerai jika mereka tetap terikat dengan pernikahan,hal itu akan membahayakan(memudharati) istrinya.

Dikalangan ulama yang dimaksud dengan keadaan darurat yang membolehkan seseorang melakukan yang dilarang adalah keadaan yang memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. kondisi darurat itu mengancam jiwa atau anggota badan.
  2. keadaan darurat hanya dilakukan sekedarnya saja dalam arti tidak melampaui batas.

Cabang-cabang dari qoidah ini:

  1. ﺍﻟﻀَّﺮُﻭﺭَﺍﺕُ ﺗَﻘَﺪَّﺭُ ﺑِﻘَﺪَﺭِﻫَﺎ

: Apa yang dilakukan karena darurat diukur sekedar kedaruratannya.

  1. ﻣَﺎﺃُﺑِﻴﺢَ ﻟِﻠﻀَّﺮُﺭَﺍﺕِ ﻳُﻘَﺪَّﺭُ ﺑِﻘَﺪَﺍﺭِﻫَﺎ

: Keadaan darurat ukurannya ditentukan menurut kadar kedaruratannya.

  1. ﺍﻟﻀَّﺮَﺭُ ﻻﻳُﺰَﺍﻝُ ﺑِﺎﻟﻀَﺮَﺍﺭِ

: Kemudharatan tidak boleh dihilangkan dengan kemudharatan lagi.

  1. ﻳَﺤْﺘَﻤَﻞُ ﺍﻟﻀَّﺮَﺭُ ﺍﻟﺨَﺎﺹِ ﻻَﺟَﻞِ ﺍﻟﻀَّﺮَﺭِ ﺍﻟﻌَﺎﻡِ

: Kemudharatan yang khusus boleh dilaksanakan demi menolak kemudharatan yang bersifat umum.

  1. ﺍﻟﻀَّﺮَﺭُ ﺍﻻﺷَﺪُّ ﻳُﺰَﺍﻝُ ﺑِﺎﻟﻀَّﺮَﺭِﺍﻻﺧَﻒِّ

: Kemudharatan yang lebih berat dihilangkan dengan kemudharatan yang lebih ringan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *