Loading...
Fiqih.

Pembahasan yang kedua:hukum yang berhubungan dengan masalah mandi,dalam hal ini terdapat tiga permasalahan:

 

1.Tata-cara mandi.

2.Memulai anggota wudhu mayat waktu memandikannya.

3.Menjadikan rambut mayat wanita menjadi tiga bagian.

 

  1. Tata-cara mandi.

عن أم عطية قالت:كنا نُنهَى أن نُحِدّ على ميت فوق ثلاث إلا على زوج أربعة أشهر وعشرا.ولا نكتحل ولا نتطيب,ولا نلبس ثوبا مصبوغا إلا ثوب غصب.وقد رُخّص لنا عند الطهر,إذا اغتسلت احدانا من محيضها في نبذة من كست أظفار.وكنا نُنهى عن اتباع الجنازة

رواه البخاري.

:dari Ummi ‘Athiyyah rodhiyallohu ‘anhu dia berkata:kami(wanita) dilarang berIhdad(‘Iddah) terhadap orang yang mati lebih dari tiga hari kecuali terhadap suami,maka Ihdadnya empat bulan sepuluh hari.kami tidak bercelak,tidak memakai wang-wangian,tidak berpakaian yang berwarna kecuali pakaian yang berkain keras.kami diberi keringanan ketika bersuci seseorang mandi dari haidnya dengan menggunakan sedikit wangi-wangian dengan kapas.dan kami dilarang mengikuti jenazah.

Didalam pembahasan ini kita akan menyebutkan pengertian dan tata cara mandi janabah.

Mandi(الغسل) secara bahasa adalah:mengalirkan(mencurahkan) air keseluruh tubuh dengan menggosok-gosoknya.

Sedangkan secara syara’ mandi yaitu:mennyiramkan air yang bersih(suci) keseluruh tubuh dengan menggosok-gosoknya dan diiringi dengan niat agar boleh sholat.

Adapun tata-cara mandi seperti berikut ini:

1.Niat

2.membasuh telapak tangan sebanyak tiga kali.

3.membasuh kemaluan dengan tangan kiri,kemudian membersihkannya.

4.berwudhu seperti wudhu untuk solat,tetapi tidak membasuh kedua kaki.

5.menyampaikan air kepangkal rambut kepala kemudian membasuhnya sebanyak tiga kali.

6.membasuh seluruh tubuh dimulai dari sebelah kanan kemudian sebelah kiri dengan menggosok-gosok yang bisa dicapai dari tubuh,lalu membasuh kedua tumit kaki.

Faedah-faedah yang berhubungan dengan mandi pada pembahasan ini:

1.keringanan untuk wanita yang sedang menjalani Ihdad(‘Iddah) apabila mandi dari haidhnya untuk menghilangkan bau yang tidak sedap.

Berkata imam Nawawi:

Kapas dan sedikit minyak kasturi bukan untuk berminyak wangi,hanya saja hal itu diberi keringanan untuk menghilangkan bau.

Berkata al-Muhallab:

Diberi keringanan wanita yang mandi junub dari haidh menggunakan kemenyan untuk menghilangkan bau darah darinya karena hendak mendirikan sholat.

Dan berkata Ibnu Batthol:

Diperbolahkan bagi wanita yang haid yang sedang menjalani Ihdad ataupun tidak,ketika mandi dari haidhnya menghilangkan darah dari dirinya menggunakan kemenyan dengan tujuan mendirikan sholat dan duduk bersama para Malaikat(dimajlis ilmu),agar mereka tidak merasa tersakiti dengan bau darah.

Berkata imam Nawawi didalam Syarh Muslim:

Tujuan menggunakan minyak kasturi mungkin untuk membersihkan tempat darah dan menghilangkan bau tidak sedap,atau untuk mempercepat pembentukan anak(janin).jika tujuannya yang pertama,maka bisa menggunakan kapas dan minyak kasturi atau yang menyerupai keduanya.

2.minyak yang bukan bertujuan untuk berwangi-wangian tidak dilarang wanita yang sedang menjalani Ihdad menggunakannya,karena hal itu bukan minyak wangi maka tidak termasuk maksud dari Hadits.ini adalah madzhab Malikiah,Hanabilah,dan Dzohiriah.hanya saja imam Malik,Syafi’I,dan Ahmad dalam satu riwayat melarang jika dugunakan untuk kepala,karena hal itu akan menghiasinya.dan hal itu dilarang karena berhias.

3.wajib mandi ketika darah haidh sudah selesai.

4.disunnahkan segera mandi setelah darah haidh selesai.

 

Bersambung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *