Loading...
Fiqih.

Hukum seputar problema bersuci bagi wanita didalam kitab Shohih Bukhari dan Muslim.

1.Hukum yang berhubungan dengan Wudhu.

عن أم عطية رضي الله عنها أنّ النبي صلى الله عليه وسلم قال لهن في غسل ابنته:ابدأن بميامنها ومواضع الوضوء منها

:dari Ummi ‘Athiyyah rodhiyallohu ‘anha bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam berkata kepada mereka sewaktu memandikan(jenazah) putrid beliau:hendaklah kamu memulai membasuh anggota tubuh bagian kanan dan anggota wudhunya.

Pembahasan ini berbicara tentang Wudhu dan hukum yang berhubungan dengannya.

Wudhu adalah isim Mashdar dan Wudhu merupakan pekerjaan.Wudhu berasal dari kata(الوَضَاءَةُ) maksudnya adalah kebersihan dan keindahan.sedangkan Wadhu(الوَضُوءُ),yaitu tempat air yang ddipergunakan untuk berwudhu.

Berkata imam Nawawi:

(kata Wudhu/الوُضُوءُ) dengan wau didhommahkan apabila yang dimaksud adalah berwudhu secara bahasa adalah Mashdar.dengan wau yang difatahkan jika yang dimaksud adalah yang yang digunakan untuk berwudhu.

Sedangkan secara syari’at Wudhu adalah:menggunakan air yang suci kepada empat anggota tubuh(yang dibasuh ketika berwudhu) berdasarkan sifat yang tertentu menurut syara’,dengan melakukannya secara tertib.

Hadits ini adalah Hadits Ummu ‘Athiyyah yang dikeluarkan oleh imam Bukhari pada bab Janaiz(jenazah) dalam Sembilan tempat.

Pembicaraan yang berkenaan dengan Hadits Ummu ‘Athiyyah:

Muhammad bin Sirin mengikuti saudara perempuannya yang bernama Hafshoh dalam periwayatan Hadits ini,dan menjadi masyhur dari keduanya dan dari Kholid alhija’.begitu juga dari Ismail bin ‘Ilyah yang dia riwayatkan dari Musaddad Abu Kholifah.

Ibnu ‘Abdil barr meriwayatkan dari jalan Hammam dari Qotadah dari Anas,bahwasanya dia mengambil Hadits itu dari Ummi ‘Athiyyah.dia(Ummu ‘Athiyyah) berkata:kami memandikan putrid Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam kami disuruh memandikannnya dengan daun bidara sebanyak tiga kali jika telah bersih.kalau belum,sebanyak lima kali atau boleh lebih banyak dari itu.

Dia(Anas) berkata:kami diperlihatkan bahwa maksud lebih banyak dari itu adalah tujuh kali.

Faedah:

Anak perempuan yang tidak disebutkan namanya ini adalah Ummu kultsum istri dari ‘Utsman bin ‘Affan rodhiyallohu ‘anhu.Asma bintu ‘Umais dan Shofiyyah bintu ‘Abdul muttholib memandikan jenazahnya,’Ummu ‘Athiyyah menyaksikannya.dia(Ummu ‘Athiyyah) menyebutkan perintah(Rasulullah صلى الله عليه وسلم) dan tata-cara memandikannya.yang meninggal ditahun kesembilan H.seperti yang disebutkan Abu ‘Umar.

Sedangkan didalam Shohih Muslim bahwasanya yang meninggal itu adalah Zainab bintu Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang meninggal ditahun kedelapan H.seperti yang telah dinukil oleh Qadhi ‘iyadh dari sebagian ahli siyar bahwasanya yang wafat itu adalah Ummu kultsum.dia(Qadhi ‘iyadh) berkata:yang benar adalah Zainab sebagaimana Muslim dengan jelas menyebutnya didalam riwayatnya.dan telah dikumpulkan diantara keduanya bahwasanya(Ummu ‘Athiyyah) memandikan Zainab dan hadir ketika memandikan Ummu kultsum.

Dan telah disebutkan oleh al-Mundziri:bahwasanya Ummu kultsum wafat sedangkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم berada diperang badar dan sangat jauh.al-Mundziri salah dalam hal ini,karena yang wafat sewaktu beliau diperang Badar adalah Ruqoyyah.ketika Ummu kaltsum telah dimakamkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

دفن البنات من المكرمات.

:anak-anak perempuan yang mulia telah dimakamkan.

Adapun hokum yang berhubungan dengan Wudhu dalam pembahasan ini antara lain:

1.disunnahkan untuk mewudhukan jenazah ketika hendak memandikannya,berdasarkan nash Hadits:

ومواضع الوضوء مها.

:dan anggota tubuhnya yang dibasuh saat berwudhu.

Dan ini adalah madzhab Syafi’i.dan telah dinukil oleh imam Nawawi dari Abu hanifah bahwanya hal ini tidaklah disunnahkan.yang demikian tidaklah benar.didalam al-Qoduri terdapat pada kitab-kitab mereka:bahwasanya jenazah jika mereka hendak memandikannya,maka mereka mewudhukannya.

Didalam al-Hidayah:bahwasanya yang demikian itu adalah sunnah mandi,hanya saja jenazah tidak dibuat berkumur-kumur dan istinsyaq(memasukkan air kedalam hidungnya),karena mengeluarkan air dari mulutnya sangat sulit.karena anggota wudhu memiliki keutamaan,padanya terdapat cahaya.

Apakah jenazah diwudhukan ketika mandi pertama atau mandi yang kedua atau masing-masing keduanya? Dalam hal ini terjadi perbedaan dikalangan penganut Madzhab Maliki seperti yang diceritakan oleh al-Qurthubi.

2.disunnahkan mendahulukan anggota tubuh yang sebelah kanan ketika memandikan jenazah,begitu juga semua kegiatan dalam bersuci.seperti itu juga berbagai macam keutamaan,terdapat Hadits yang sangat banyak dalam hal ini.hal ini disunnahkan adalah dikatakan kebanyakan para ulama.dan berkata Ibnu Hazm:

Harus dimulai dari anggota tubuh bagian kanan.

Dan berkata Ibnu Sirin:

 

Dimulai anggota wudhu lalu anggota tubuh bagian kanan.

 

Berkata Abu Qilabah:

Dimulai dari kepala kemudian jenggot,lalu anggota tubuh bagian kanan.

3.keutamaan bagian kanan atas bagian kiri.tidakkah kamu lihat sabdanya(Nabi صلى الله عليه وسلم) yang menceritakan sifat Robb(Tuhan)nya:

كلتا يديه يمين.

:itulah kedua tangannya(Allah عز وجل) yang sebelah kanan.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

فأما من أوتي كتابه بيمينه.

الحاقة:19

:adapun orang yang menerima buku catatan amalnya dari sebelah kanan.

QS.a-Haqqoh:19

Mereka adalah penghuni syorga.dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengagumi yang sebelah kanan didalam segala urusannya,karena beliau mengagumi optimism yang baik.

4.hak seorang wanita yang meninggal untuk dimandikan oleh wanita dan suaminya,dan ini dikatakan oleh jama’ah ahli ilmu.sedangkan Sya’bi dan Tsauri berpendapat begitu juga Abu Hanifah,bahwasanya seorang suami tidak boleh memandikan jenazah istrinya,dan semua mereka membolehkan seorang istri memandikan jenazah suaminya.sedangkan menurut jumhur ulama berpendapat bahwa seorang suami paling berhak memandikan jenazah istrinya dibandingkan wali wanita tersebut,Hasnun berbeda pendapat dengan jumhur.Hasnun berkata:

Sesungguhnya wali seorang wanita yang meninggal lebih berhak memandikan jenazah wanita tersebut.

5.tidak dianjurkan untuk mandi setelah memandikan jenazah bagi orang yang memandikannya,karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak mengingatkan Ummu ‘Athiyyah dalam hal tersebut.inilah madzhab Jumhur.

Berkata al-Khotthobi:aku tidak mengetahui seorangpun yang mengatakan bahwa hal itu adalah wajib.

Berkata Sirojuddin al-anshori:

Ada yang menceritakan kepada kami perkataan yang mewajibkannya.

Imam Ahmad dan Ishaq mewajibkan mandi setelah memandikan jenazah.karena ada Hadits yang menyuruh untuk mandi ketika selesai darinya,dan Hadits tersebut bermasalah.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *